Puluhan Jurnalis Olahraga di Bali Ikuti Pelatihan “Dari Stadion ke Ruang Redaksi”, Tingkatkan Integritas dan Kedalaman Analisis
KABARDENPASAR – Puluhan wartawan olahraga dari berbagai media online, cetak dan media elektronik di Bali mengikuti pelatihan jurnalistik intensif bertajuk “Dari Stadion ke Ruang Redaksi”. Kegiatan ini diselenggarakan di Bali United Cafe, Stadion Kapten I Wayan Dipta, Gianyar, pada Kamis (25/6/2026).
Pelatihan ini dirancang untuk membekali jurnalis muda agar mampu membangun karier yang berkelanjutan di industri media, tanpa mengorbankan kode etik serta integritas profesi.
Untuk memberikan perspektif yang kaya, acara ini menghadirkan dua praktisi media olahraga nasional yang berpengalaman. Muhamad Rais Adnan, seorang jurnalis dan pengamat olahraga dengan pengalaman lebih dari satu dekade di media nasional, membagikan rekam jejak kariernya dari reporter lapangan hingga memimpin redaksi. Ia menekankan bahwa integritas harus dijaga di setiap tahap karier.Menurut Rais, esensi jurnalis sepak bola hari ini telah bergeser dan dituntut memiliki kedalaman analisis yang kuat.”Jurnalis dalam meliput pertandingan sepak bola bukan sekadar melaporkan skor akhir pertandingan. Kita tidak hanya bicara 90 menit di lapangan, tapi juga ekosistem, bisnis, dan dampak sosialnya,” ujar Rais.Ia menambahkan, jurnalis sepak bola harus mampu menyelami cerita di balik pertandingan, yang meliputi:Taktik dan strategi permainan.Manajemen dan dinamika politik klub.Isu-isu sosial, korupsi, hingga penggunaan doping.Kehidupan pribadi pemain yang relevan dengan performa.Rais juga menggarisbawahi peran ganda jurnalis olahraga, yakni sebagai informator yang menyampaikan fakta secara akurat, sekaligus sebagai pengawas (watchdog) yang mengawasi kebijakan, transparansi, serta tata kelola di dunia sepak bola.Menjawab tantangan keterbatasan Sumber Daya Manusia (SDM) di ruang redaksi saat menghadapi jadwal pertandingan yang bersamaan, Rais memberikan solusi taktis bagi para jurnalis lapangan.”Kalau ada keterbatasan orang, kita tidak akan bisa menulis laporan pertandingan satu per satu. Alternatifnya adalah mengambil angle sisi lain. Pastikan pertandingan besar diutamakan, lalu buat rekap pertandingan. Jangan hanya sekadar mengejar skor hasil pertandingannya saja,” jelasnya.
Sesi kedua diisi oleh Nandang P Sidik yang membawakan topik “Prosedur Peliputan Kompetisi Resmi Sepak Bola Liga 1 dan Liga 2″. Nandang membagikan panduan komplet berbasis pengalamannya selama 8 tahun sebagai media officer sekaligus jurnalis Bola.com sejak 2016.Nandang menegaskan empat prinsip dasar kerja jurnalis lapangan, yaitu Profesional, Akurat, Beretika, dan Berkontribusi. Ia menyoroti proses administrasi sebagai aspek penting yang paling sering diabaikan oleh jurnalis pemula.Ia memaparkan bahwa setiap awal musim, PT Liga Indonesia Baru (LIB) selaku operator kompetisi menggelar workshop selama tiga hari untuk 18 media officer Liga 1 dan 20 media officer Liga 2.”Workshop itu tujuannya menyamakan pemahaman regulasi antara operator, klub, dan media. Media officer adalah bagian dari manajemen klub yang bertugas melayani media untuk liputan pertandingan, latihan, hingga wawancara eksklusif,” jelas Nandang.Nandang juga mencontohkan kasus yang kerap terjadi di lapangan, seperti wartawan non-olahraga yang ditugaskan mendadak meliput laga besar tanpa ID liputan resmi, sehingga berujung ditolak oleh petugas keamanan stadion.”Hukumnya tegas. Tanpa registrasi dan ID, tidak boleh masuk stadion sampai kompetisi selesai. Itu bukan arogansi media officer, tapi regulasi kompetisi,” tegas Nandang.
Di akhir sesi, Nandang memaparkan alur baku yang wajib dipatuhi oleh setiap jurnalis olahraga sebelum dan sesudah peliputan di stadion:
- Akreditasi Media ke PSSI atau PT LIB.
- Persetujuan dari klub tuan rumah.
- Pengambilan ID Card Media resmi.
- Masuk stadion sesuai dengan zona peliputan yang ditentukan.
- Peliputan jalannya pertandingan.
- Mixed Zone pascalaga untuk wawancara cegat.
- Konferensi Pers resmi bersama tim pelatih dan perwakilan pemain.
- Publikasi Berita yang wajib sesuai dengan Kode Etik Jurnalistik (KEJ).
Melalui pelatihan ini, para jurnalis olahraga di Bali diharapkan tidak hanya cakap dalam menulis berita yang cepat, tetapi juga tertib administrasi, patuh pada regulasi kompetisi, serta mampu menyajikan produk jurnalistik yang mendalam dan berintegritas.***