Laut Sehat, Ekonomi Kuat: Tanjung Benoa Perkuat Kolaborasi Maritim Bali

0

Kabardenpasar – Asosiasi Galangan Samudera Indonesia (AGSI) mendorong kolaborasi industri maritim, pemerintah, aparat keamanan, masyarakat adat, dan organisasi konservasi untuk memperkuat ekonomi biru (Blue Economy) serta ketahanan maritim Bali.

Dorongan tersebut disampaikan dalam kegiatan “Aku Cinta Laut TA 2026” di Pantai Timur Tanjung Benoa, Minggu (6/9/2026), dalam rangka memperingati Hari Jadi ke-81 TNI Angkatan Laut Republik Indonesia.

Kegiatan yang diisi aksi bersih-bersih pantai, bakti sosial, bakti kesehatan, dan makan siang gratis tersebut terselenggara atas kerja sama Lanal Denpasar, Desa Adat Tanjung Benoa, dan AGSI.

Industri Maritim dan Konservasi Harus Berjalan Bersama

Ketua Umum AGSI, Alif Fian Nurcahyamto, mengatakan industri maritim memiliki hubungan erat dengan masyarakat pesisir dan kondisi lingkungan laut. Karena itu, penguatan sektor maritim harus berjalan seimbang dengan keberlanjutan ekosistem.

“Penguatan sektor maritim harus berjalan beriringan dengan kepedulian terhadap lingkungan. Industri tidak boleh berjalan sendiri. Pemerintah, TNI, masyarakat, dunia usaha dan organisasi konservasi harus menjadi bagian dari satu ekosistem kolaborasi.”

Alif menegaskan, keterlibatan AGSI dalam kegiatan tersebut merupakan bagian dari komitmen dunia usaha untuk ikut menjaga ruang maritim Indonesia.

“Bagi AGSI, konservasi bukan sesuatu yang berada di luar pembangunan industri maritim. Lingkungan laut yang sehat justru merupakan fondasi bagi keberlanjutan industri, ekonomi pesisir dan kehidupan masyarakat.”

Menurutnya, Bali memiliki potensi besar dalam pengembangan ekonomi maritim, mulai dari pariwisata bahari, perikanan, jasa kelautan, hingga industri galangan kapal. Potensi tersebut perlu dikembangkan melalui pendekatan Blue Economy.

“Blue Economy bukan hanya bagaimana laut menghasilkan nilai ekonomi, tetapi bagaimana nilai ekonomi tersebut tumbuh tanpa menghilangkan fungsi ekologis laut. Karena itu, konservasi harus menjadi fondasi pembangunan ekonomi maritim.”

Keamanan Laut dan Kelestarian Jadi Tanggung Jawab Bersama

Komandan Lanal Denpasar Kolonel Laut (P) Ary Mahayasa, S.T., M.M.S., menekankan bahwa laut merupakan ruang kehidupan yang membutuhkan keterlibatan seluruh elemen masyarakat.

“Semangat Aku Cinta Laut harus menjadi gerakan bersama. Laut adalah ruang hidup masyarakat yang harus kita jaga secara bersama-sama. Kolaborasi seperti ini perlu terus diperkuat agar manfaatnya dapat dirasakan langsung oleh masyarakat pesisir.”

Kabag Binopsnal Ditpolairud Polda Bali AKBP I Gusti Agung Purnama Wirahadi, S.T., menilai keamanan dan kelestarian laut harus dijaga melalui sinergi lintas sektor.

“Laut merupakan ruang bersama. Karena itu, menjaganya juga harus dilakukan secara bersama-sama. Tidak bisa hanya mengandalkan satu institusi, tetapi membutuhkan kolaborasi seluruh stakeholder, termasuk masyarakat dan dunia usaha.”

Ia menambahkan, kesadaran masyarakat pesisir menjadi kekuatan penting dalam menjaga keamanan sekaligus kelestarian laut.

“Masyarakat pesisir merupakan bagian penting dalam menjaga laut. Ketika masyarakat memiliki kesadaran dan kepedulian terhadap lingkungannya, maka upaya menjaga keamanan sekaligus kelestarian laut akan menjadi jauh lebih kuat.”

Masyarakat Pesisir Jadi Bagian Penting

Komandan Lanud I Gusti Ngurah Rai Kolonel Pnb David Dwi Martin W., S.M., menilai kegiatan sosial yang melibatkan masyarakat menjadi contoh konkret sinergitas antarlembaga.

“Program sosial yang digabungkan dengan masyarakat ini merupakan contoh pelestarian yang dilakukan secara bersama. Ke depan, sinergitas ini diharapkan terus maju dan berkembang serta dapat memfokuskan pemanfaatannya kepada masyarakat, terutama di wilayah Bali.”

Bendesa Adat Tanjung Benoa I Made Wijaya, S.E., menyambut baik kolaborasi yang mempertemukan unsur pertahanan, keamanan, pemerintah, dunia usaha, dan organisasi konservasi bersama masyarakat.

“Tanjung Benoa memiliki hubungan yang sangat erat dengan laut. Karena itu, menjaga laut berarti menjaga kehidupan masyarakat sekaligus menjaga keberlanjutan ekonomi kawasan.”

Konservasi, Blue Economy, dan Ketahanan Maritim

Founder Kawan Alam Indonesia Henny Paula Sitohang mengatakan Tanjung Benoa memiliki posisi strategis untuk membangun model kolaborasi yang menghubungkan konservasi, Blue Economy, dan ketahanan maritim.

“Ketahanan maritim tidak hanya berbicara mengenai keamanan laut, tetapi juga mengenai bagaimana kita memastikan laut tetap sehat, masyarakat pesisir memiliki daya hidup dan ekonomi yang kuat, serta seluruh pemangku kepentingan memiliki kepedulian terhadap keberlanjutan kawasan.”

Menurut Henny, Blue Economy harus dibangun dengan konservasi sebagai fondasinya.

“Laut harus tetap sehat, masyarakat harus mendapatkan manfaat ekonomi, dan aktivitas ekonomi tidak boleh menghilangkan fungsi ekologis kawasan. Inilah yang kami dorong di Tanjung Benoa.”

AGSI memandang kegiatan “Aku Cinta Laut TA 2026” sebagai momentum untuk memperkuat ekosistem maritim Bali yang menghubungkan industri, konservasi, dan ketahanan maritim.

Kolaborasi tersebut diharapkan tidak berhenti pada aksi sosial sesaat, tetapi berkembang menjadi program berkelanjutan yang menjaga laut, memberdayakan masyarakat pesisir, dan memastikan keberlanjutan lingkungan.

Dari Tanjung Benoa, industri maritim dan konservasi dipertemukan. Dari kolaborasi, Blue Economy kita kuatkan. Dari laut yang sehat, ekonomi masyarakat kita tumbuhkan. Dari ekosistem maritim yang kuat, ketahanan Indonesia kita bangun.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *