Zumen Art Surabaya Menutup Tour de Java Pemutaran Film ROOTS Seratus Tahun Walter Spies di Bali Karya Michael Schindhelm
Suasana berbagi pengalaman dan diskusi setelah menonton pemutaran Film Roots di Zumen Art Studio Surabaya (6/9) yang rata-rata dihadiri kaum Gen Z. (Foto dok. Zumen Art Studio Surabaya).
Surabaya – Rangkaian pemutaran film dokumenter fiksi Roots karya sutradara Michael Schindhelm resmi menutup turnya di Jawa Timur. Mengusung tajuk Roots Tour de Java, penutupan tur ini dipusatkan di Zumen Art Studio, Purimas, Surabaya, setelah sebelumnya sukses menyapa para penikmat seni di berbagai kota seperti Bandung, Yogyakarta, Magelang, Banyuwangi, dan Jember.
Film yang menyoroti kisah seniman asal Jerman, Walter Spies, serta dinamika perkembangan pariwisata dan pelestarian budaya Bali ini berhasil menarik antusiasme tinggi dari berbagai elemen masyarakat, mulai dari pelaku seni, pemerhati budaya, aktivis lingkungan, akademisi, hingga generasi muda Gen Z.
Yudha Bantono selaku Project Director pemutaran film Roots mengungkapkan respon publik di setiap kota penayangan sangat beragam dan menjadi bahan refleksi yang krusial bagi daerah masing-masing.

“Minat masyarakat, khususnya penggiat sejarah, seni, budaya, dan lingkungan untuk menantikan film ini diputar kembali di Pulau Jawa maupun di luar Pulau Jawa sangat tinggi. Ke depan, sedang dirancang program agar film ini juga bisa dinikmati kembali oleh penonton secara luas,” ujar Yudha di sela-sela penutupan tur di Surabaya.
Di Surabaya, pemutaran film ini mendapat sambutan hangat dari kalangan pendidik seni dan akademisi. Venta, selaku pendiri Zumen Art Studio Surabaya, menilai bahwa narasi yang diusung film Roots sangat sejalan dengan upaya pengembangan pendidikan seni bagi anak-anak hingga dewasa di lembaganya.
“Film Roots saya kira dapat menempatkan peran penting bagaimana sejarah, ingatan, seni, tradisi, budaya, dan perubahan sosial dalam membentuk cara pandang generasi muda terhadap dunia, sehingga dapat menginspirasi kaum muda agar lebih peka terhadap perubahan di sekitar mereka. Lebih penting lagi, penonton tidak hanya sekadar diajak untuk memahami sejarah dan apa yang terjadi di Pulau Bali saat ini, tetapi juga merenungkan lingkungan sosial mereka sendiri. Lebih penting lagi, film ini menunjukkan bahwa seni dapat menjadi sarana untuk merespons perubahan secara positif,” jelas Venta.
Pandangan senada turut disampaikan oleh Agus Sukamto, akademisi dari Sekolah Tinggi Kesenian Wilwatikta (STKW) Surabaya yang akrab disapa Agus Koecing. Menurutnya, pesan pelestarian tradisi dalam film tersebut relevan dengan kondisi seni lokal di Surabaya, salah satunya kesenian tradisi Ludruk.
“Dahulu Ludruk di Surabaya jumlahnya ada tiga ratusan, namun di era sekarang bisa dihitung dengan jari keberadaannya. Bila menengok film Roots melalui kisah Walter Spies dan perjuangan masyarakat Bali mempertahankan tradisi dan budayanya di tengah gempuran arus global, ini sangat penting bagi kita untuk menengok kembali apa itu akar, lalu akar yang berupa tradisi budaya itu agar tumbuh dan berkembang, kemudian menjadi milik generasi berikutnya untuk mengembangkannya,” tutur Agus.
Sementara itu, gema refleksi serupa juga dirasakan di daerah lain yang disinggahi tur ini. Ahmad Pandi, seorang pelukis asal Jember yang menghadiri pemutaran di Serakit Studio, berpendapat bahwa film tersebut memotivasi para pekerja kreatif untuk menggali kembali sejarah lokal sebagai pijakan dalam mengadvokasi isu sosial dan lingkungan. Dari ujung timur pulau, Hasan Basri selaku Ketua Dewan Kesenian Blambangan Banyuwangi, turut menyoroti pentingnya film ini sebagai cermin bagi perkembangan pariwisata daerahnya.
“Bagaimana kepedulian seniman-seniman asing seperti Walter Spies begitu berjasanya mengembangkan seni budaya bahkan pariwisata Bali. Disamping itu seperti disampaikan dalam Roots, bahwa semua kebaikan juga ada sisi gelapnya, maka itu sebagai warga Banyuwangi film ini mengingatkan kembali posisi Banyuwangi dengan pariwisatanya yang sangat berkembang saat ini. Banyuwangi diharapkan memiliki blue print bagaimana mengembangkan seni, budaya dan pariwisata secara berkelanjutan dengan baik,” pungkas Hasan. ***