Headlines

Inovatif Jadi Modal untuk Maju di Era Digital

Alor – Semakin cepatnya laju teknologi digital membuat setiap orang harus mampu beradaptai untuk sejalan agar tidak ketinggalan untuk terus maju. Karena semua lini kehidupa manusia saat ini sudah mulai beralih kea rah digital.

Menurut Adji Srihandoyo, Business Development Director Koperasi Jasa Tri Capital Investama, jika ingin maju di era digital kita harus inovatif dan melakukan sesuatu serta kreatif. “Terutama di bidang bisnis kita wajib memiliki pemahaman  atau pengetahuan yang setidak-tidaknya kita punya dasar-dasar pemahaman tentang suplai dimana terjadi proses menjual dan dimaka ada potensi pembelinya,” ujar Adji dalam Webinar Literasi Digital wilayah Kabupaten Alor, Nusa Tenggara Timur, Senin 23 Agustus 2021.

Selain itu kita juga harus memilki pengetahuan tentang bagaimana kita membuat produk itu sendiri dan seterusnya. Juga bentuk kemampuan untuk kita berinteraksi dengan lingkungan kita sendiri. Juga diperlukan kemampuan untuk memanfaat komunitas yang kita masuki untuk perkembangan bisnis kita semisal arisan, PKK ini. 

“Dulu saya memulai bisnis dengan langkah pertama lewat komunitas ini saya memulai dengan langkah yang paling dasar sebelum mengeksplorasi potensi pasar yang besar sekali,” ujar Adji.

Yang juga sangat penting adalah pemahaman kita pentingnya kolaborasi. Kita bisa mulai dari kerangka kerja sendiri dulu. Awalnya dari mulut ke mulut, lewat perantara atau pengumpul, pasar tradisi tradisional atau pasar atau pasar basah, berlanjut ke pasar wilayah dan pasar modern. 

“Harus diingat adalah promosi memang penting tapi tambahkan juga personal touch selling untuk mendapatkan konsumen yang loyal,” katanya.

Kolaborasi ini penting untuk meningkatkan hasil penjualan. Semisal Bumdes diajak kerjasama untuk bergandengan tangan karena mereka punya kepentingan untuk meningkatkan memajukan UMKM Langkah-langkah dari atas ke bawah itu penting sebagai bekal kita menuju pasar online yang jangkauan pasarnya luas hingga nasional dan internasional.

Yang tak kalah penting adalah kita juga haruis siap untuk mendengarkan. Karena dengan banyak mendengar bisa dijadikan sebagai tantangan untuk melakukan perbaikan-perbaikan berkolaborasi di masa selanjutnya. 

“Berpikir untuk banyak mendengar dari banyak kepala (orang-red) untuk menghasilkan sesuatu yang lebih baik,” pesannya.

Kolaborasi ini bisa dilakukan dengan para pemangku kepentingan atau stakeholder, komunitas,  pemerintah daerah dan pusat serta akademisi juga pihak swasta. Kolaborasi dengan banyak oigak ini sangat penting karena kita sadar betul peran dari bebagai pihak termasuk universitas juga penting walaupun banyak juga dari mereka yang memiliki unit kerja UMKM. Yang harus dicermati juga dalam berbisnis onliene adalah kualitas,  kontinuitas, kemasan,  pengiriman,  harga bersaing, perizinan, promosi, pelayanan, kemudahan menjual dan kepuasan pembeli.

Untuk itu ada 4 poin yang harus kita lakukan dalam berbisnis yaitu digitalisasi promosi semisal adanya harga khusus atau diskon atau event tertentu. Yang kedua adalah kemudahan pembayaran melalui aplikasi ewallet, QRIS ataupun kredit cicilan.

Ketiga adalah pemesanan tidak harus bertatap muka dan cukup dengan aplikasi saja serta keempat adalah pelayanan informasi terkini dengan melakukan jaminan purna jual. “Ingat jika hal-hal yang divicarakan dalakm kecakapan bisnis digital ini sdah dilakukan maka tak mustahil produk lokal akan bisa go internasional. Sebab kita harus bangga dengan produk kita sendiri.”

Selain Adji, juga hadir sejumlah pembicara berbagi wawasan tentang literasi digital yaitu Chris Jatender, Kaprodi Teknik Informatikan STTI-STIENI, Abdul Mahyuddin Djou, S.Pd Pegiat Literasi dan Davina Jamasir sebagai Key Opinion Leader.

Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) bersama Siberkreasi. Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 ini menargetkan 10.000.000 orang terliterasi digital pada tahun 2021, hingga tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024.

Kegiatan ini merupakan bagian dari program Literasi Digital di 34 Provinsi dan 514 Kabupaten dengan 4 pilar utama. Di antaranya Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *