Headlines

Mau Jadi Smart Netizen atau Dibodoh-bodohi Oleh , Kita Yang Pilih

Buleleng  – Salah satu dampak negatif yang paling rawan di dunia internet adalah perkembangan hoaks yang tampaknya belum hilang 100 persen juga. Menurut Alek Iskandar, Managing Director IMFocus Digital Consultant saat menjadi nara sumber dalam Webinar Literasi Digital wilayah Kabupaten Buleleng, Bali, Kamis 19 Agustus 2021, tidak semua yang ada di internet itu benar.

“Karenanya kita harus memilah-milih mana kabar benar mana yang hoaks karena hoaks ada dimana-mana dan kita tidak boleh kalah dari hoaks,” kata Alek dalam webinar yang dipandu oleh Claudia Lengkey ini.

Lebih lanjut kata Alek, selama ini bentuk hoaks yang paling sering disebar adalah berbentuk tulisan sebanyak 62,10 persen, berbentuk gambar 37,50 persen dan video sebanyak 0,40 persen.

Sementara itu saluran hoaks yang biasa dipergunakan yang memiliki porsi terbesar adalah lewat sosial media sebesar 92,40, saluran aplikasi chatting 62,80 persen, situs  34,90 persen, TV sebanyak 8,70 persen dan email sebanyak 3,10 persen. Dengan data tersebut maka bisa dilihat bahwa medsos menjadi titik rawan tertinggi penyebaran hoaks. 

“Karena sikap bijak untuk memilah milah konten atau berita yang akan diunggah dan disebar harus diutamakan. Sebab tergantung kita mau jadi smart netizen apa dibodoh bodohi. Jangan sampai kita jadi netizen sumbu pendek yang gampang dikompori,” imbuhnya.

Dan yang sangat mengkhawatirkan adalah kenyataan bahwa ada 800 ribu situs penyebar hoaks di Indonesia. Angkanya akan naik apalagi di saat tahun politik. “Itu data beberapa waktu lalu dan diprediksi hari ini bertambah, bayangkan hampir 1 juta yang menginveksi orang indonesia. Meskipun Kemkominfo sudah memblokir 6 ribu situs hoaks tapi sebanyak 60 persen orang Indonesia memang sudah terpapar hoaks (survei KIC).”

Yang harus diingat adalah bahwa tidak semua yang ada di internet itu bisa kita percaya dan hoaks itu bisa memecah belah bangsa. Untuk itu ada cara untuk mengenali berita hoaks di sosmed. Diantaranya adalah untuk jangan langsung percaya dengan judul heboh.

Menurut Alek, orang Indonesia punya satu kekurangan bahwa kita tidak cermat membaca konten. Kerap kali hanya membaca judul dan ingin cepat jadi pahlawan untuk segera menyebarkannya.

Kemungkinan juga maksudnya baik ingin berbagi tapi cermati linknya, selidiki sumbernya dan baca dari sumber yang jelas semisal media yang mainstream yang terpercaya. Sebab media mainstream punya susunan organisasi yang jelas. Dan semua berita sudah dikonfirmasi ulang.

Selain itu kita bisa mengambil waktu 1 atau 2 menit untuk berpikir apakah berita yang akan kita share ini hoaks atau bukan. Dengan berpikir sesaat sebelum sharing, tidak membuat kita telat jadi pahlawan. Lebih baik tunda sesaat daripada nanti membuat malu karena menyebar hoaks.

Sebenarnya kita juga bisa mengetahui apakah berita yang akan kita share itu hoaks atau bukan dengan mengamati format beritanya tidak wajar. Selain itu bisa juga mengecek fotonya yang kebanyakan menguras emosi. “Biasanya foto hoaks menguras emosi, bahkan drama Korea aja pasti kalah sedihnya sehingga membuat kita jadi terpancing mau marah,” katanya.

Selain itu bisa periksa tanggal keabsahannya dan lihat dari situs terpercaya atau tidak atau bisa membandingkan dengan laporan lain yang kredibel karena beberapa berita memang sengaja dipalsukan

“Di dunia maya penuh orang baik, orang biasa dan orang tidak baik. Ada juga orang yang mencari nafkahnya dengan menyebarkan berita palsu. Ada pabriknya. Siapa yang menbayar adalah mereka yang punya kepentingan masing-masing. Dunia memang begitu makanya kita tidak boleh terpancing,” ujarnya.

Selain Alek, juga hadir pembicara lainnya seperti M.Dedi Gunawan, Operations & Legal Divisi Head, I Gede Krishna Juliharta, ST, MT, KEtua Relawan TIK Provinsi Bali dan Wakil Ketua III STMIK Primakara dan Chika Mailoa sebagai Key Opinion Leader.

Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) bersama Siberkreasi. Kegiatan ini menargetkan 10.000.000 orang terliterasi digital pada tahun 2021, hingga tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024.

Kegiatan ini merupakan bagian dari program Literasi Digital di 34 Provinsi dan 514 Kabupaten dengan 4 pilar utama. Di antaranya Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.**

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *