Peluang Baru Sektor Pertanian di Era “Wellness Economy”
KABARDENPASAR – Pergeseran gaya hidup global yang kian berorientasi pada kesehatan dan kebugaran (wellness economy) menjadi peluang emas yang harus segera ditangkap oleh sektor pertanian domestik. Transformasi ini sekaligus menjadi momentum penting untuk meredefinisi citra pertanian di mata generasi muda, dari sekadar aktivitas budidaya konvensional menjadi industri hulu-hilir yang bernilai ekonomi tinggi serta berdampak sosial nyata.
Hal tersebut mengemuka dalam pembukaan Agromart yang digelar serangkaian Hari Ulang Tahun (HUT) Badan Kekeluargaan (BK) Fakultas Pertanian, Sains, dan Teknologi (FPST) Universitas Warmadewa (Unwar) ke-42 di Denpasar, Senin (8/6/2026).
Ketua Yayasan Shri Kesari Warmadewa, Prof. Dr. Drs. Anak Agung Gede Oka Wisnumurti, M.Si., saat membuka acara tersebut menegaskan bahwa tren pasar dalam sepuluh tahun ke depan akan didominasi oleh bisnis yang bergerak di sektor wellness dan olahraga (sport). Perubahan perilaku masyarakat yang semakin selektif terhadap asupan pangan, pengaturan kolesterol, hingga konsumsi buah-buahan segar, merupakan indikator kuat bahwa kebutuhan akan produk pertanian berkualitas akan terus melonjak.
”Masyarakat sekarang sudah mulai hidup sehat, berolahraga, menjaga kolesterol, dan memperhatikan rumus makanan termasuk buah-buahan. Ini harus ditangkap sebagai sebuah peluang oleh anak-anak muda kita, sehingga pertanian itu sesungguhnya ke depan mempunyai prospek yang sangat baik dan terbuka lebar,” ujar Wisnumurti.
Peluang pasar yang besar ini dinilai harus dipahami oleh generasi muda agar mereka tidak ragu memilih pertanian sebagai wadah studi. Tantangan institusi pendidikan saat ini adalah mengikis stigma lama bahwa kuliah di pertanian hanya untuk menjadi petani tradisional.
Wisnumurti menekankan, pertanian modern adalah tentang bagaimana menghasilkan produk yang mendukung dunia industri dan menumbuhkan kemandirian usaha.
Senada dengan hal tersebut, Dekan FPST Unwar, Prof. Dr. Ir. Luh Suriati, M.Si., menjelaskan bahwa Agromart hadir bukan sekadar sebagai ajang pameran, melainkan sebuah laboratorium hidup bagi mahasiswa untuk mengasah pemikiran kritis dan jiwa kewirausahaan. Peserta yang terlibat dalam ajang ini tidak hanya menampilkan produk inovasi dosen dan mahasiswa, tetapi juga menggandeng para mitra kolaborasi dari program penelitian dan pengabdian masyarakat.
”Melalui Agromart, mahasiswa tidak hanya belajar menjual produk, tetapi juga belajar berpikir sebagai inovator; memperhatikan kualitas, mengelola kemasan dan branding, hingga membangun jejaring kemitraan,” kata Luh Suriati.
Menurut Suriati, ketika mahasiswa mampu merumuskan masalah di lapangan menjadi ide usaha yang rasional dan terukur, perguruan tinggi sedang menyiapkan calon wirausahawan muda yang tangguh.
“Merekalah yang ke depan akan memperkuat ketahanan pangan, meningkatkan pendapatan petani, sekaligus mempercepat hilirisasi inovasi pertanian,” imbuhnya.
Ia menambahkan, produk-produk potensial yang muncul dari ajang ini akan langsung dikawal melalui pengujian mutu dan penguatan legalitas. Sementara itu, riset yang masih berupa konsep akan didorong ke tahap implementasi, dan rintisan kewirausahaan mahasiswa akan difasilitasi agar berkelanjutan melalui inkubator bisnis kampus.
Dampak Riil Kemitraan
Kehadiran para mitra binaan dalam pameran ini menjadi bukti konkret bagaimana hilirisasi riset dan pengabdian masyarakat mampu menggerakkan ekonomi lokal. Salah satu mitra yang merasakan dampak langsungnya adalah Kelompok Wanita Tani (KWT) Werdi Guna, yang merupakan kelompok binaan Program Studi Agroteknologi FPST Unwar.
Ketua KWT Werdi Guna, Ni Luh Putu Sri Gunawati, mengungkapkan bahwa keikutsertaan mereka dalam Agromart memberikan kontribusi nyata terhadap aspek komersial usaha mereka, dengan mencatatkan peningkatan penjualan anggrek hingga 15 persen. Selama ini, tantangan terbesar peternak atau pembudi daya tanaman hias lokal adalah terbatasnya akses pasar fisik karena pengembangan operasionalnya masih berbasis skala rumahan.
”Selama ini kami hanya memasarkan anggrek secara online dan pengembangannya dilakukan di rumah. Pameran seperti ini sangat membantu, terutama dalam mengubah cara pandang masyarakat. Selama ini anggrek sering kali hanya dianggap sebatas tanaman hias untuk kesenangan, padahal potensinya sangat besar untuk dikembangkan sebagai komoditas bisnis yang bernilai ekonomi tinggi,” kata Gunawati.
Selain fokus pada pengembangan kapasitas mahasiswa dan penguatan mitra, pelaksanaan Agromart juga menjadi bagian dari strategi FPST Unwar dalam memenuhi kriteria luaran akademik serta penjaminan mutu eksternal. Suriati menegaskan, tata kelola fakultas, layanan, serta luaran kemahasiswaan harus dipastikan berlangsung efektif dan berorientasi pada perbaikan yang berkelanjutan.
Langkah ini sejalan dengan pandangan Oka Wisnumurti mengenai pentingnya membawa hasil riset sains dan teknologi pertanian keluar dari ruang laboratorium menuju skala industri demi memenuhi Indikator Kinerja Utama (IKU) Perguruan Tinggi, khususnya dalam menghasilkan pendapatan di luar dana akademik.
”Kenapa indikator itu dipasang? Agar kampus tidak saja berputar pada persoalan-persoalan administratif dan Tri Dharma yang ke dalam, tetapi mampu menghasilkan produk-produk yang bisa dijual karena kerja sama dengan industri. Jika bisa diproduksi massal, pertanian akan mampu memenuhi indikator capaian tersebut,” urai Wisnumurti.
Melalui sinergi antara kebijakan yayasan, implementasi akademis tingkat fakultas, hingga pelibatan aktif kelompok tani binaan, Agromart diharapkan menjadi titik balik penting. Sektor pertanian ditegaskan akan tetap menjadi pilar unggulan pembangunan nasional, sejauh institusi pendidikan mampu memindahkan hasil inovasi dari dalam kampus langsung ke ekosistem industri dan keranjang belanja masyarakat.