BALINALE 2026, Marcella Zalianty: Saya Ingin ada Film Indonesia Masuk Kategori Inc Competition
Kabardenpasar -Festival Film Internasional Balinale 2026 menjadi panggung besar bagi kebangkitan sinema tanah air. Dari total 94 film yang lolos kurasi, sebanyak 26 di antaranya merupakan karya sineas Indonesia. Perubahan positif ini mendapat apresiasi tinggi dari aktris sekaligus Ketua PARFI, Marcella Zalianty, yang hadir langsung di Sanur, Bali.
Menurut Marcella, kehadiran puluhan film lokal tersebut menandai babak baru bagi perkembangan industri film nasional. Pasalnya, ajang penghargaan bergengsi ini sebelumnya selalu didominasi oleh karya-karya dari sineas asing.
“Menurut saya keikutsertaan sejumlah film Indonesia di Balinale tahun ini bagus sekali. Dulu ajang ini lebih banyak didominasi film asing. Sekarang ada filmmaker Indonesia dan film-film komunitas yang ikut tampil di sini, itu perkembangan yang sangat baik,” ujar Marcella di sela-sela acara Balinale 2026.
Jembatan Menuju Panggung Dunia
Tahun ini, Balinale menghadirkan total 94 film dari 38 negara di seluruh dunia. Masuknya 26 film Indonesia—termasuk karya sineas independen dan komunitas film daerah—membuktikan bahwa kualitas produksi lokal semakin diakui secara global. Festival internasional seperti ini dinilai efektif menjadi jembatan strategis untuk membuka peluang bersaing di tingkat dunia.
Meski demikian, Marcella yang juga bertindak sebagai juri untuk kategori narrative feature menyimpan harapan besar untuk masa depan. Ia menargetkan film Indonesia tidak hanya menjadi pilihan resmi festival (official selection), tetapi juga mampu menembus kategori kompetisi utama pada edisi berikutnya.
“Saya berharap mudah-mudahan tahun depan, kalau saya dipercaya menjadi juri lagi, saya ingin ada film Indonesia yang masuk kategori in competition. Saat ini memang ada film-film Indonesia yang masuk official selection dan semuanya bagus serta unik,” tambahnya.
Karakter Unik yang Sulit Ditemukan di Bioskop Komersial
Sebagai juri, Marcella mengaku terkesan dengan keragaman karya yang ia tonton, mulai dari film asal Tunisia, Mesir, hingga Jerman. Ia menegaskan tidak memiliki kriteria penilaian yang kaku. Namun, ia menggarisbawahi bahwa seluruh film yang lolos kurasi Balinale memiliki kekuatan narasi dan cara bertutur yang sangat khas.
Bagi masyarakat dan pencinta film, kehadiran festival ini merupakan kesempatan langka. Balinale menjadi ruang alternatif untuk menikmati karya-karya seni berkualitas tinggi yang umumnya absen dari jalur distribusi bioskop komersial.
“Kita beruntung bisa datang ke sini karena dapat melihat film-film yang mungkin tidak bisa kita tonton secara komersial di bioskop,” pungkasnya.