Kasus Tumor Otak Tinggi, RS Kasih Ibu Kedonganan Dorong Pentingnya Deteksi Dini dan Skrining

0

Kabardenpasar – Kasus tumor otak kini menjadi perhatian serius dalam dunia medis di Indonesia, khususnya di Bali. Penyakit ini tercatat sebagai kasus terbanyak kedua yang ditangani dalam bidang bedah saraf setelah kasus trauma.

Dokter Spesialis Bedah Saraf Kasih Ibu Hospital Kedonganan, dr. Steven Awyono, Sp.BS, FTO, mengungkapkan bahwa tingginya angka kasus ini berdampak signifikan pada kemampuan fungsional pasien. Hal tersebut disampaikannya dalam acara Focus Group Discussion (FGD) yang digelar di RS Kasih Ibu Kedonganan, Senin (20/4).

“Secara general kasus tumor otak itu sangat tinggi. Oleh karena itu, topik ini kita angkat agar masyarakat bisa mengetahui lebih jelas tentang apa itu tumor otak, bagaimana mengenalinya sejak awal, dan penanganannya,” ujar dr. Steven.

Kesenjangan Jumlah Pasien dan Kemampuan Operasi

Meski belum ada data penelitian khusus mengenai angka kejadian di Bali secara menyeluruh, dr. Steven memberikan gambaran situasi di lapangan. Di satu rumah sakit saja, jumlah pasien baru tumor otak bisa mencapai 10 orang per minggu.

Kondisi ini berbanding terbalik dengan kapasitas penanganan medis. Mengingat risiko dan durasi operasi tumor otak yang sangat panjang, tim medis maksimal hanya mampu menangani sekitar tujuh operasi dalam sepekan.

“Operasi tumor otak itu panjang. Melakukan dua operasi dalam sehari saja sudah membuat dokter maupun tim kewalahan. Risikonya pun besar bagi pasien,” jelasnya.

Menyikapi hal ini, perhimpunan bedah saraf di Indonesia tengah berupaya mengoptimalkan pencetakan spesialis baru dan melakukan pemberdayaan ke berbagai daerah agar penanganan pasien lebih optimal.

Waspadai Gejala “Abu-abu”Terkait gejala, dr. Steven menyebutkan bahwa sakit kepala adalah keluhan yang paling sering muncul namun sering dianggap remeh. Banyak masyarakat memilih mengonsumsi obat bebas tanpa melakukan evaluasi lebih lanjut.

“Sakit kepala itu gejala yang sangat abu-abu. Obatnya mudah dicari, diminum hilang, lalu muncul lagi. Padahal itu harus dievaluasi. Bahkan, ada kasus di mana gejalanya bukan sakit kepala, tergantung lokasi tumornya,” tegas dr. Steven.

Ia pun mendorong adanya dukungan pemerintah untuk program skrining otak, baik untuk tumor maupun penyakit lain seperti stroke, guna menekan risiko keterlambatan penanganan.

Fasilitas Lengkap dan Estimasi Biaya

Direktur RS Kasih Ibu Kedonganan, dr. Ni Putu Ayu Utari Laksmi, memastikan bahwa pihaknya telah memiliki fasilitas penunjang diagnosis yang lengkap, mulai dari CT Scan, MRI, hingga layanan pembedahan di kamar operasi.Namun, ia tidak menampik bahwa biaya penanganan tumor otak tergolong tinggi.

“Untuk kisaran biaya bisa di atas Rp50 juta. Jika kondisi pasien semakin berat dan tumornya besar, penanganan akan lebih sulit dan biaya tentu akan lebih besar,” pungkas dr. Ayu Utari.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *